Buka Lintasan Penyeberangan Baru Ketapang – Lembar Kemenhub Maksimalkan Potensi Yang ada

0
109

SURABAYA – Keberadaan transportasi massal, utamanya di jalur penyeberangan masih dianggap memiliki potensi. Selain peluang pengembangan yang masih sangat terbuka, efektivitas moda transportasi laut tersebut juga efisien secara keekonomian.

Pertimbangan ini memantik respon Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kemenhub RI menciptakan kemanfaatan potensi transportasi penyeberangan tersebut. Setelah melakukan sejumlah kajian dari berbagai aspek, Ditjen Hubdat pun membuka lintasan penyeberangan baru.

“Menteri Perhubungan meminta Ditjen Hubdat agar mengkaji beberapa lintasan yang tidak efektif dan cenderung mengganggu transportasi di daerah setempat. Untuk itu, Kemenhub RI melalui Ditjen Hubdat membuat lintasan penyeberangan baru pulang-pergi (PP) dari Ketapang-Lembar,” tutur Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Budi Setiyadi usai menghadiri sosialisasi KM 308/2020 tentang Penetapan Lintas Ketapang-Lembar dan KM 309/2020 tentahg Tarif Ketapang-Lembar di Surabaua, Kamis (17/12/2020).

Menurutnya, lintas pendek baru di transportasi massal dengan kapal jenis roll on-roll off (Roro) atau feri ini memiliki potensi memangkas waktu dan biaya. Bukan hanya itu, jalur yang nantinya melengkapi 20 titik lintasan penyeberangan yang sebelumnya telah ada, diyakini dapat mengurangi beban jalan darat hingga kemacetan.

“Sekaligus, kendaraan truk dari Jawa-Bali tidak lagi menggunakan jalan darat. Jadi, saya harus brgerak dan tidak hanya pada 20 lintasan yang besar, tapi kami membuka yang lain,” tuturnya.

Mengutip Gubernur Bali, Wayan Koster, Budi mengatakan, kendaraan dari Gilimanuk sampai ke Denpasar sudah sangat padat. Apabila, kendaraan truk tersebut lewat Ketapang-Gilimanuk akan menjadi hambatan.

“Mulai dari kemacetan, kerusakan jalan maupun keselamatan,” jelasnya.

Lebih jauh diutarakan, sebelumnya pernah dilakukan kajian pada 2016 dari terbukanya peluang penciptaan lintasan baru. Hanya saja, hal tersebut lebih pada beberapa lintasan yang sifatnya Long Distance Ferry (LDF), seperti rute Surabaya-Makassar atau Surabaya-Banjarmasin.

“Kalau memang ada lintasan baru yang lain dan kemudian bisa ada pertumbuhan, termasuk demand-nya juga ada, kenapa tidak dilakukan?” katanya.

Diharapkan, pencanangan pelayaran perdana untuk lintasan Ketapang-Lembar pada, 26 Desember 2020, bisa berjalan dengan baik dan lancar. Ia meminta, agar tiap operator pelayaran menyiapkan kapalnya menyambut pembukaan lintasan penyeberangan baru tersebut. “Termasuk Organda dan Aptrindo bisa hadir,” ingatnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Dr. Nyono, ST. MT mengatakan, lintasan yang dikembangkan oleh Dirjen Perhubungan Darat sebenarnya menghidupkan fasilitas dermaga yang sudah ada, bentuk dukungan dishub jatim sudah lama melakukan kerja sama terkait penyediaan fasilitas dermaga dengan PT ASDP mulai tahun lalu, cuma akses jalanya yang perlu perbaikan. Sehingga untuk mendukung kesiapan pelaksanaan penggunaan lintasan Ketapang – Lembar yang awalnya akan digunakan pada tanggal 20 Desember akhirnya mundur di tanggal 26 Desember 2020 nanti.

“Dermaga milik Pemprov yang dikerjasamakan dengan ASDP, cuma jalan aksesnya masih menunggu waktu umur beton agar bisa dilalui truk-truk yang bertonase sehingga pembukaan pelayaran perdananya diundur tanggal 26 Desember nanti yang semula direncanakan tanggal 20 Desember 2020,” jelas Nyono.

Sebenarnya Dishub Jatim telah lama memohon ke pusat agar fasilitas dermaga yang ada dapat dipergunakan untuk Long Distance Ferry (LDF) dari Jawa Timur ke NTT, NTB segera dioperasikan. Untuk lintasanya terseeah pusat yang mau dioperasikan bisa dari Jangkar dulu atau Ketapang.

“Kami berharap yang dari Jangkar ke NTB karena dermaga kita sudah siap,” ucap Nyono.

Sedang, Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo bersyukur berterima kasih kepada Dirjen Hubdat atas langkah ini, pasalnya, kani abis dapat pukulan telak karena semenjak tanggal 8 Agustus kemarin dengan beroperasinya pelayaran pendek yang memotong langsung lintasan dari Banyuwangi ke Gili Mas serta merta anggota Gapasdap Ketapang-Gili Manuk dan Padangbai-Lenbar seketika itu seoerti dapat pukulan telak hingga terkapar.

“Terkaparnya ini kita tidak langsung busa memukul dan membalas karena kita tidak punya regulasi yang sama,” akunya.

Khoiri mengingaatkan, bahwa di industri angkutan penyeberangan itu, kami memberikan pelayanan yang luar biasa sampai-sampai yang dilayani tidak merasakan apa karena luar biasanya.

“Kita isi tidak isi tetap berangkat, tarif tetap stabil mesku di moda lain bila peaksesion terjadi lonjakan tarif. Itulah yang dilakukan anggota Gapasdap yang tidak pernah libur dengan pelayanan seperti pengguna jasa berjalan diatas jembatan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu operator PT Dharma Lautan Utama (DLU), Drs. Ec. Erwin H. Poedjono menyambut baik dengan kebijakan dari Dirjen Hubdat atas adanya lintasan penyeberangan baru Ketapang – Lembar. Hal ini akan memberi asupan imun bagi operator kapal penyeberangan ditengah pandemi covid-19 yang melumpuhkan perekonomian.

“Sebagai pemain lama di Ketapang-Gili Manuk yang sangat terdampak bahkan merugi akibat covid, kami minta kesetaraan dengan hadirnya pemain-pemain baru di dunia penyeberangan yang dipermudah sehingga memperparah situasi.

Melihat hal demikian, Erwin mengaku, pada saat itu melalui Gapasdap kami melakukan brainstorming atas keadaan tersebut yang kami rasakan bahwa ada ketidak adilan dan ketidak setaraan. Kita bersyukur atas dibukanya lintasan baru ini.

“Atas nama pengusaha kami ucapkan terima kasih kepada pak Dirjen yang telah tanggap meskipun membutuhkan waktu, tidak lain itu untuk kebaikan agar pelayanan nantinya bisa reguler, tepat waktu, tidak làgi menunggu muatan ramai lalu berangkat. Yang jelas falsafah penyeberangan bahwa kosong isi harus berangkat sesuai jadwal itu bisa terlaksana dengan baik,” ungkap Erwin.

Erwin menambahkan, untuk armada kami tidak kesulitan karena armada yang dimiliki DLU sangat siap mengingat banyak kapal tidak priduktif nongkrong di Ketapang akibat banyaknya kapal dan dermaganya terbatas.

“Kami tinggal memindahkan salah satu armada yang juga telah memenuhi syarat untuk melakukan pelayaran lintas panjang. Saat ini kami gunakan Dharma Ferry VIII,” pungkasnya. (Omiz/die/ms)

Comments are closed.