Pelindo III Jadikan Pemanduan Selat Malaka Pintu Masuk Bisnis Maritim

0
42

SURABAYA – Pelindo III (Persero) melalui anak perusahaannya PT Pelindo Marine Service (PMS) sudah mulai dikenal stakeholder di sepanjang Selat Malaka yang tidak hanya berasal dari kalangan dalam negeri namun stakeholder negara tetangga baik Malaysia, Singapore, Thailan bahkan negara Timur Tengah terbukti telah menggunakan jasa pemanduan dari perusahaan anak bangsa ini. Melalui pemanduan itu, Pelindo III berupaya membuka potensi bisnis maritim yang lebih besar dimana selama ini masih terkubur di lautan.

Bila orang lain mulai berteriak tentang bidikan jasa pemanduan sangat menggiurkan karena tingginya lalulalang kapal-kapal jumbo yang melintas perairan Selat Malaka, justru Pelindo III melihat itu sebagai pintuk masuk menyingkap tabir bisnis maritim yang belum dimaksimalkan sebagai sumber pundi-pundi bagi negara melalui kiprah perusahaan asuhan Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara) secara total.

“Bagi kami, apa yang telah dilakukan dengan membuka pemanduan di Selat Malaka itu justru menjadi pintu masuk untuk membuka bisnis maritim yang lebih besar dengan melayani kapal-kapal asing yang menggunakan perairan kita,” terang Direktur Operasi dan Komersial PT Pelindo III (Persero) melalui SMS Oprasi, Nur Budiwan.

Pemanduan ini membuka jalan kita untuk melakukan kegiatan yang lain, sebab secara komersialisasi kegiatan besarnya bukan dari pemanduan akan tetapi dari kegiatan bongkar muat ship to ship nya, bunkering, perbaikan kapal yang mana nilainya jauh lebih besar.

“Itu adalah sebenarnya pintu masuk kita untuk melakukan kegiatan lain yang jauh lebih menarik dan lebih besar untuk komersialnya,” kata Nur Budiwan.

Menurut Nur, itu jauh lebih menarik, lebih menantang yang bisa dilakukan Pelindo III di Selat Malaka sebab selama ini kegiatan tersebut banyak dilakukan oleh negara tengtangga, padahal itu nilainya berpuluh-puluh dan beratus-ratus kali lipat. Yang menjadi pertanyaan…? kemana bangsa ini selama ini.

“Malah negara kecil, Singapore yang memanfaatkan kegiatan itu, dan melewati sebagian besar lintasan kita kegiatan ship to ship, bunker dan lain sebagianya,” keluhnya.

Itulah, lanjut Nur Budiwan, kita akan pelajari lebih dalam, dan kalau itu bisa dilakukan kenapa tidak karena kita punya potensi itu untuk mengembangkan kegiatan komersialisasi yang hasilnya justru jauh lebih besar.

Dengan seperti ini, nantinya yang dibawa tetap nama Indonesia di mata Internasional bahwa selama ini yang menangani dari pihhak luar padahal kita tidak kalah dari mereka. Sebenarnya, kelebihan yang kita miliki seperti pemanduan itu kita bisa mengawal 1 kali 24 jam sebagai bentuk customer service yang akan membangun kepuasan pelanggan sehingga berikutnya tentu akan tetap memakai jasa kita.

“Kalau Pandu bule itu tidak mau, selebihnya mereka tinggal di kamar dan kalau ada apa-apa baru memanggilnya. Itu yang membedakan servis yang orang kita berikan sehingga kapal-kapal asing lebih senang menggunakan jasa kita,” jelasnya.

“Pelayanan 24 jam itu dilakukan 2 orang Pandu yang bergantian setiap melakukan pemanduan untuk satu kapal,” imbuh Nur.

Sedang tenaga Pandu khusus pelayanan laut dalam yang dimiliki sifatnya on call dalam melakukan pelayanan dengan jumlah yang memadahi sekitar 217 orang dengan 30 orang pandu mempunyai sertifikat Deep Sea Pilot.

“Tapi kami tetap lakukan evaluasi atas kebutuhan pandu khususnya pandu laut dalam,” ucap Nur.

Secara pengembangan bisnis, Nur menyebut bahwa pihaknya telah melakukan MoU dengan Pelindo I dan juga telah melakukan pembicaraan dengan perusaha daerah sebab kegiatan ini kita buat sendiri sebab lahannya terlalu luas, artinya kekuatan kita bangun bersama dengan saudara sekandung sesama perusahaan BUMN yang mempunyai visi selaras.

“Jika sudah ada kesamaan dengan pemerintahan daerah dan penguasa setempat, insya’alloh tahun depan sudah ada pergerakan yang kita lakukan bersama. Paling tidak kegiatan ship to ship dan lain sebagainya,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pelindo Marine Service (PMS), Eko Hariyadi Budiyanto mengatakan, PMS yang diberi amanah untuk menembus potensi bisnis maritim di Selat Malaka telah mengantongi kepercayaan pasar Internasional, pasalnya stakeholder luar negeri itu sudah mengetahui keberadaannya, bahkan tahap penjajakan kerjasama sudah dilakukan baik dengan Malaysia, Singapura terkait pelayanan pemanduan maupun kerjasama usaha di area labuh yang berada di perairan Batam-Singapura.

“Sejauh ini kami telah mendapat kepercayaan pemanduan dari Timur Tengah yang sudah berjalan, dan kedepan dengan Malaysia. Jadi kapal yang melintas Selat Malaka yang akan masuk Malaysia mereka meminta kepada kita untuk dilakukan pemanduan,” ujar Eko.

Begitu juga Ship to Ship Transfer di area lego jangkar disekitar Batam – Singapura, Ehay menyebut sudah ada pembicaraan yang siap dikerjasamakan antara Indonesia dengan Singapore melalui PMS.

“Nantinya yang bisa dilakukan seperti perbaikan kapal, suplay logistik kapalnya, bunkering, pergantian kru kapal-kapal asing, itu semua peluang yang kita bidik. Jadi tidak sekedar melakukan pemanduan semata.

Tentu itu menjadi peluang besar bagi Pelindo III untuk masuk dalam perhelatan bisnis maritim yang ada di perairan Selat Malaka yangmana setiap kapal asing yang akan masuk Malaysia maupun Singapura mereka harus melakukan labuh jangkar dulu diarea yang telah ditetapkan, baik oleh Singapura maupun pemerintah Indonesia sudah menetapkannya.

“Cuma harus ada yang mengelolah, dan ada yang membantu,” tandas Ehay.

Anchorage area itu, area bebas yang bisa dimainkan potensi-potensi bisnisnya sehingga Pelindoo III sangat serius melihat itu. Jadi tidak hanya berhenti di pemanduan semata namun banyak yang bisa digarap dengan bermain di Selat Malaka.

“Bagi kami, pemanduan itu sebagai pintu masuk untuk mengulik potensi bisnis yang ada di Selat Malaka, dan justru itu secara hitungan bisnis lebih besar,” pungkas Eko.

Seperti diketaui, Batam dikenal sebagai daerah pelabuhan bebas paling ramai dikunjungi pelaut kapal-kapal asing, apalagi sejak diberlakukannya FTZ (Free Trade Zone) atau daerah perdangangan bebas untuk kawasan BBK (Batam, Bintan, Karimun) setidaknya ada 7 tempat anchorage area (labuh jangkar) kapal di perairan Batam dan sekitarnya; 1. Pulau Nipah yang berada di sebelah Utara pulau Batam yang berbatasan dengan Singapore di Selat Malaka dan Singapore Straits yang sudah di izinkan perhubungan laut menjadi daerah STS atau Ship to Ship Transfer khusus untuk kapal bertonase besar seperti VLCC (Very Large Cargo Carrier) 2. Perairan pulau Galang terutama untuk kapal-kapal besar dari Singapore yang sedang menunggu muatan 3. Perairan Batu Ampar 4. Perairan Kabil khususnya antrian kapal tanker yang akan memuat minyak dan CPO 5. Perairan Tanjung Uncang yang merupakan daerah galangan kapal 6. Perairan Karimun STS untuk area kegiatan bongkar muat ke Mother Vessel 7. Perairan Sekupang yang berkembang menjadi area galangan kapal. (Miz/Rud)

Comments are closed.