Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

0
155

Pada Kamis Kliwon 29 Rabiul Akhir 1441 H yang bertepatan dengan 26 Desember 2019 M dalam Almanak Hijriyyah NU, akan terjadi peristiwa langit langka berupa Gerhana Matahari Cincin (Annular). Ketampakan Matahari menyerupai cincin bercahaya di langit akan terjadi pada beberapa lokasi yang berada di Zona Cincin. Sementara lokasi–lokasi lainnya di seluruh Indonesia akan menyaksikan Matahari tertutupi sebagian oleh Bulan.

Gerhana Matahari (al–kusuf asy–syams) terjadi saat Bumi, Bulan dan Matahari benar – benar sejajar dalam satu garis lurus ditinjau dari perspektif tiga–dimensi dengan Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Dalam khasanah ilmu falak, Gerhana Matahari terjadi bersamaan dengan konjungsi Bulan–Matahari (ijtima’) dengan Bulan menempati salah satu di antara dua titik nodalnya. Titik nodal merupakan titik potong khayali di langit dimana orbit Bulan tepat memotong ekliptika (masir asy–syams), yakni bidang edar orbit Bumi dalam mengelilingi Matahari.

Sebagai akibat kesejajaran tersebut maka pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bumi akan terblokir sedikit oleh Bulan. Maka peristiwa Gerhana Matahari selalu terjadi di siang hari. Mengingat ukuran Bulan jauh lebih kecil dibanding Bumi, maka pemblokiran tersebut tidak terjadi secara tidak merata di sekujur paras Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari pada saat itu. Melainkan hanya di sektor–sektor tertentu saja yang bergantung pada geometri orbit Bulan kala kesejajaran tersebut terjadi.

Dalam setiap tahun Hijriyyah terjadi 12 peristiwa ijtima’, namun tidak setiap ijtima’ menghasilkan Gerhana Matahari. Sebab orbit Bulan membentuk sudut 5º 14’ terhadap ekliptika sehingga Bulan tidak selalu menempati salah satu di antara dua titik nodalnya manakala ijtima’ terjadi. Situasi dimana ijtima’ terjadi bersamaan dengan Bulan menempati/berdekatan dengan salah satu titik nodalnya hanya terjadi minimal 2 kali dan maksimal 4 kali dalam setiap tahun Hijriyyah.

Terdapat tiga jenis Gerhana Matahari. Yang pertama, Gerhana Matahari Total (GMT). Terjadi saat Bulan berada di titik nodal kala ijtima’ dan jaraknya relatif dekat dengan Bumi, atau dalam istilah ilmu falak menempati titik perigee (titik terdekat ke Bumi dalam orbit Bulan). Sehingga ukuran–mar’i Bulan relatif sama dengan Matahari (yakni diameter 0º 30’), menjadikan cakram Bulan sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana. Dalam konfigurasi ini cahaya Matahari yang terblokir oleh Bulan akan membentuk dua bayangan, yaitu umbra (bayangan inti total) dan penumbra (bayangan tambahan). Lokasi yang dilintasi umbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Total sementara lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana sebagian.

Yang kedua, Gerhana Matahari Cincin (GMC) atau Gerhana Matahari Anular. Mirip GMT, ia juga terjadi saat Bulan berada di titik nodal kala ijtima’ namun jaraknya relatif jauh dari Bumi, atau dalam istilah ilmu falak menempati titik apogee (titik terjauh ke Bumi dalam orbit Bulan). Sehingga ukuran–mar’i Bulan lebih kecil ketimbang Matahari, menjadikan cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana. Pada konfigurasi ini cahaya Matahari yang terblokir Bulan juga akan membentuk dua bayangan, yaitu antumbra (bayangan inti cincin) dan penumbra (bayangan tambahan). Lokasi yang dilintasi antumbra akan menyaksikan Gerhana Matahari Cincin sedangkan lokasi penumbra hanya menyaksikan gerhana.

Dan yang ketiga, Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Berbeda dengan GMT dan GMC, GMS terjadi saat ijtima’ namun Bulan hanya berdekatan dengan salah satu titik nodalnya saja. Sehingga cakram Bulan tidak sepenuhnya menutupi cakram Matahari di puncak gerhana pada lokasi manapun. Dalam konfigurasi ini cahaya Matahari yang terblokir Bulan hanya akan membentuk satu bayangan, yaitu penumbra (bayangan tambahan). Karenanya dimanapun berada di lokasi penumbra, hanya akan terlihat gerhana sebagian.

Aneka peristiwa Gerhana Matahari menempati sudut–sudut penting linimasa sejarah Islam. Paling terkenal adalah peristiwa Gerhana Matahari Cincin 29 Syawwal 10 H / 27 Januari 632 M. Di kotasuci Madinah, gerhana ini nampak sebagai gerhana sebagian di pagi hari dengan 76 % cakram Matahari tertutupi saat puncak gerhana. Gerhana bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW yang masih bayi. Sehingga sebagian Umat Islam mengira ada hubungan antara kedua peristiwa tersebut. Usai memakamkan putranya Rasulullah SAW menjelaskan gerhana tidaklah berhubungan dengan hidup matinya seseorang. Karena Bulan dan Matahari adalah dua dari sekian banyak tanda–tanda kekuasaan Allah SWT. Dan Umat Islam agar segera berzikir dengan menunaikan shalat gerhana tatkala menyaksikan peristiwa gerhana.

Peristiwa Gerhana Matahari menarik lainnya adalah Gerhana Matahari Total 24 November 569 M, yang terjadi berdekatan dengan masa kelahiran Rasulullah SAW. Di kotasuci Makkah, gerhana itu nampak sebagai gerhana sebagian di pagi hari dengan 64 % cakram Matahari tertutupi. Terdapat pula Gerhana Matahari Total 9 Mei 1533 SM yang bertepatan dengan masa Nabi Ibrahim AS di tanah Palestina. Gerhana berlangsung kala Matahari dalam proses terbenam. Dan ada Gerhana Matahari Cincin 30 Oktober 1207 SM, bertepatan dengan pertempuran puncak penaklukan tanah Palestina oleh pasukan di bawah pimpinan Nabi Yusya’. Data–data Gerhana Matahari tersebut berdasarkan data hisab Five Millenium Canon of Solar Eclipses (Fred Espenak, NASA, 2006 M) yang disilangkan dengan data sejarah.

Comments are closed.