Lunas Kapal Rumah Sakit TNI-AL Mulai Dikerjakan

0
97

SURABAYA – Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) yang dipesan TNI-AL dengan anggaran 764 miliar di PT PAL Indonesia (Persero) telah memasuki tahapan keel laying atau pemasangan lunas kapal. Sedang kapal itu sendiri direncanakan sesuai jadwal akan selesai pada tahun 2021.

Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), Budiman Saleh mengatakan, kapal yang bernomor pembangunan W000302 ini sudah masuk tahap keel laying dimana sebelumnya pada bulan Juli lalu telah dimulai proses steel cutting sebagai tanda dimulainya pekerjaan kapal BRS tersebut.

“Pembangunan kapal ini sudah memasuki proses produksi mencapai 27, 085 persen, dimana lebih cepat dari progres yang direncanakan semula yaitu 25 persen,” kata Budiman dalam sambutannya di kawasan PT Pal, Senin (14/9/2019).

Tahapan keel laying ini sangat penting karena nantinya usia kapal akan dihitung sejak pertama kali pemasangan lunasnya. Proses pembangunan dilakukan dengan 6 starting point pada 6 zona pararel dengan pendekatan modular sistem untuk mempersingkat waktu pembangunan kapal.

“Pada keel laying ini PT Pal telah berhasil memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan oleh regulasi SOLAS dimana untuk tahapan ini disyaratkan berat blok yang lulus assembly 50 ton atau minil 1 persen dari berat total konstruksi 37 ton setara dengan 1 sampai 2 blok,” jelas Budiman.

Budimana juga mengaku, ada banyaknya pesanan kapal dari TNI-AL tentu akan menambah kepercayaan abgkatan negara asing untuk dapat memesan dan menjajaki kerjasama dengan PT PAL.

“Semoga apa yang kami kerjakan dalam pengerjaan penbangunan kapal BRS dan proyek lainnya bisa tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya,” harap Budiman.

Ditempat yang sama, Asisten Logistik KSAL, Laksamana Muda Moelyanto mengatakan, pada saat ini kita menyaksikan progress pembangunan kapal BRS yang layak diapresiasi karena bisa berjalan sesuai yang direncanakan bahkan dapat lebih cepat dari kontrak multi yers yang diharapkan selesai tahun 2021. Dia mengingatkan, bahwa kapal bantu rumah sakit ini nyata-nyata memiliki satu fungsi yaitu pengabdian masyarakat pada saat konteks operasi selain perang.

“Kapal BRS memiliki
peran penting dalam pengabdian kepada masyarakat, tuntutan kehadiran pemerintah di saat rakyat membutuhkan. Seperti, peristiwa Wamena dan beberapa peristiwa Papua kapal rumah sakit hadir sebagai manifestasi peran pemerintah ditengah-tengah pada saat masyarakat membutuhkan,” terangnya.

Moelyanto juga berpesan, agar PT PAL dan Satgas mewakili TNI-AL untuk tidak bosan-bosannya mengingatkan spesifikasi tentang kapal BRS karena tidak saja kapal itu berada di ranah teknis kapal perang tetapi juga tergantung pada kualitas memadupadankan peralatan-peralatan kesehatan dengan platform kapal supaya diakhir masa pembangunan tidak lagi terjadi secara teknis dibidang platfom selesai tapi masih belum maksimal dalam pengoperasian.

“Semoga selalu dilakukan pengawasan dalam pemasangan alat-alat kesehatan yang berdampingan secara teknis kapal perang itu sendiri untuk selalu dilakukan komunikasi dalam mengambil kebijakan agar tidak ada merugikan kedua belah pihak,” pesanya.

Untuk diketahui, fungsi Kapal BRS sangat pas dengan karakteristik dari wawasan maritim Indonesia, dimana sebagai negara kepulauan yang terletak dalam kawasan ribg of fire Indonesia memiliki kerentanan bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus bahkan tsunami sehingga kehadiran kapal tersebut sangat dibutuhkan.
Kapal BRS kedua TNI AL ini memiliki panjang 124 meter, Iebar 21.8 meter. Kapal tersebut mampu mengakomodasi pasukkan, kru dan pasien sebanyak 651 orang. Kapal tersebut memiliki berat 7300 Ton dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 18 knot serta endurance 30 hari, kapal tersebut mampu untuk menampung 2 unit helikopter di dek dan 2 unit ambulance boat. (ruu)

Comments are closed.