Indonesia Jadi Tuan Rumah SEAFDEC Council Meeting Ke-51

0
140

(maritimedia.com) – SURABAYA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC) Council Meeting ke-51.

Bertempat di Hotel Shangri-la, Surabaya, acara ini dibuka pada Senin (18/3/19) dan akan berlangsung selama lima hari ke depan, 18-22 Maret 2019.

SEAFDEC Council Meeting ke-51 mempertemukan pejabat perikanan tertinggi dari 11 (sebelas) negara anggota untuk membahas isu-isu strategis regional. Kesebelas negara itu terdiri dari 10 (sepuluh) negara ASEAN dan Jepang.

Alternate Council Director Indonesia sekaligus Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja, mengatakan salah satu tujuan pertemuan ini adalah membangun persamaan persepsi terkait pengelolaan perikanan secara berkelanjutan.

“Pertemuan ini nantinya akan menghasilkan kesepakatan dan kebijakan untuk mendorong masyarakat ASEAN memerangi IUU Fishing, mendorong penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dan akuakultur yang berkelanjutan,” kata Sjarief di Surabaya.

Tak lupa, sebagai tuan rumah, Sjarief Widjaja menyampaikan ucapan selamat datang (welcoming statement) kepada para delegasi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang turut hadir memberikan sambutan dan membuka acara ini turut mengapresiasi dipilihnya Jawa Timur sebagai tuan rumah penyelenggaraan SEAFDEC Council Meeting ke-51.

“Kami sangat berterima kasih karena Jawa Timur, dalam hal ini Surabaya dipercaya sebagai tuan rumah dari SEAFDEC Council Meeting ke-51 mengingat pertemuan ini dihadiri bukan hanya oleh negara-negara ASEAN+Jepang, tetapi juga pengamat dari negara mitra dan organisasi regional dan internasional”, ucap Emil.

Sejalan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Emil menyebutkan praktik perikanan berkelanjutan bukan hal yang dapat dilihat manfaatnya dalam waktu singkat melainkan jangka panjang. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi pemerintah dan nelayan dalam mewujudkan capaian tersebut.

“Nelayan perlu terus diyakinkan bahwa memprioritaskan tangkapan ikan berkualitas tinggi lebih penting daripada sekedar kuantitas. Untuk mendapatkan ikan dengan kualitas yang lebih baik, cara menangkap dan memprosesnya juga harus lebih baik,” pungkas Emil dilansir dari berita Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sebagai informasi, SEAFDEC merupakan organisasi internasional bidang kelautan dan perikanan yang bertujuan mendorong pengembangan sektor perikanan secara berkelanjutan. Sejak didirikan pada tahun 1967, SEAFDEC telah banyak berperan dalam mendukung pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Di antaranya menyediakan pelatihan, penelitian dan pengembangan (R&D), dan pertukaran informasi.

Sidang kali ini diikuti sekitar 100 delegasi yang terdiri dari Dewan Perikanan 11 (sebelas) negara anggota, Kepala Departemen dan Koordinator Program SEAFDEC, dan Tim Sekretariat SEAFDEC.

Indonesia diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi Sumber Daya Laut Dr. Ir. Aryo Hanggono, DEA sebagai Ketua Delegasi RI, didampingi oleh anggota-anggota terkait lainnya dari unit kerja lingkup KKP.

Turut pula hadir sejumlah mitra kerja SEAFDEC yaitu Food and Agriculture Organization (FAO); United States Agency for International Development, Regional Development Mission for Asia (USAID RDMA); Global Environment Facility (GEF); Sweden Government; dan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs Fisheries and Food Security (CTI-CFF).

Comments are closed.