Jepang Dipastikan Bangun Pelabuhan Patimban

967
51268

(maritimedia.com) – SURABAYA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) terkait pembangunan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Jawa Barat sebagai pengganti Pelabuhan Cilamaya.

Perpres Pelabuhan Patimban Nomor 57 Tahun 2016 yang ditandatangani pada 25 Mei 2016 tersebut memastikan bahwa pelabuhan Patimban akan segera dibangun. Rencananya pembangunan Pelabuhan Patimban dimulai awal tahun 2017 sehingga tahun 2019 bisa mulai pengoperasian tahap I dengan kapasitas awal sekitar 1,5 juta TEUs.

Kepastian proyek tersebut juga dikatakan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, dimana proyek pembangunan Pelabuhan Patimban akan dikerjakan oleh Jepang, setelah pertemuan bilateral antara Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di sela pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-7 Outreach di Jepang beberapa waktu lalu.

“Patimban sudah pasti, Jepangnya sudah mau, tapi hitung-hitungannya masih didiskusikan, kata Menhub Jonan.

Menhub Jonan juga mengatakan kemungkinan besar pembiayaan proyek pelabuhan pengganti Pelabuhan Cilamaya itu menggunakan skema pinjaman ketat (tight loan) dari Jepang. “Saya kira pakai tight loan, tapi untuk detilnya, belum berunding,” kata Jonan dikutip Antara.

Kementerian Perhubungan telah melakukan penghitungan kembali terkait pembiayaan proyek Pelabuhan Patimban di mana opsi pengkajian pinjamannya akan dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Kalau loan (pinjaman) harus melalui Bappenas, pengkajiannya di sana. Kemenhub hanya mengajukan proyek ini bisa tidak dibiayai dengan bantuan luar negeri, jenis pinjamannya, Bappenas yang menentukan,” kata Jonan yang ditunjuk Presiden Jokowi sebagai focal point untuk menindaklanjuti kerjasama tersebut.

Tight loan termasuk dalam skema pinjaman official development assistance (ODA) di mana jangka waktunya hingga 40 tahun, masa tenggang (grace period) 10 tahun dan bunganya 0,1 persen.

Dibandingkan dengan pinjaman biasa dengan jangka waktu hanya 20-30 tahun, masa tenggang tujuh tahun dan bunga 1,5 persen sudah pasti tight loan menguntungkan. Namun kelemahannya, Pemerintah Indonesia sebagai pihak peminjam tidak bisa menentukan konsultan dan kontraktor proyek pelabuhan Patimban.

Jepang telah menawarkan untuk memberikan pinjaman senilai 2,49 miliar dolar AS atau sekitar Rp34,90 triliun dengan skema pinjaman special term economic purposes (Step) dengan masa tenggang selama 10 tahun dan jangka waktu pinjaman 40 tahun.

Proyek pelabuhan Patimban masuk ke dalam proyek strategis sebagaimana yang tertera dalam Perpres Nomor 3 Tahun 2016 Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Pelabuhan yang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar tiga miliar dolar AS atau Rp40 triliun tersebut nantinya bisa menampung peti kemas hingga 7,5 juta TEUs jika sudah beroperasi penuh.

Pembangunan pelabuhan Patimban diperlukan untuk mengatasi kepadatan pelabuhan-pelabuhan yang sudah ada seperti Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Emas (Semarang), dan Tanjung Perak (Surabaya).

Comments are closed.