Pemerintah Tetapkan 181 Titik Pelabuhan Ekspor Ikan Budidaya

274
5664

(maritimedia.com) – SURABAYA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan 181 titik pelabuhan (check point) yang dapat disinggahi kapal ekspor ikan budidaya berbendera asing.

“Pemerintah telah menetapkan 181 titik ekspor ikan budidaya yang tersebar di beberapa daerah Indonesia”, kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.

Dengan demikian dapat dipastikan, ekspor ikan hasil budidaya sudah kembali normal. “Bila ada eksportir yang ingin ekspor dari check point Pelabuhan Teluk Awang di Nusa Tenggara Timur (NTT) tentu akan dipersilahkan”, ucap Slamet dalam berita KKP.

Dan apabila di titik itu tidak ada Imigrasi, Bea Cukai, Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Karantina, maka pihak eksportir nanti yang akan mengundang, tambah Slamet.

Slamet menyebutkan penetapan 181 titik pelabuhan tersebut, berdasarkan kesepakatan antara eksportir dan stakeholders sektor terkait.

“Nantinya, di titik-titik itu kapal pengangkut ikan hasil perikanan budidaya berbendera asing (SIKPI-A) bisa stand by dan melakukan bongkar muat ikan”, sebut Slamet.

Selain itu, penetapan titik pelabuhan ini dilakukan seiring dengan penerbitan Surat Edaran (SE) Dirjen Perikanan Budidaya KKP tertanggal 1 Februari 2016 lalu.

Sebagaimana diketahui, SE tersebut memberhentikan perpanjangan surat izin kapal pengumpul ikan berbendera asing (SIKPI-A). SE tersebut sempat membuat ekspor ikan budidaya lesu selama tiga bulan.

Slamet menambahkan, langkah yang diambil KKP sebagai upaya mengatur kembali keberadaan kapal asing Indonesia. Ini mengingat, kapal asing terutama dari Hong Kong kerap berkeliaran di kawasan budidaya yang ada di pelosok Indonesia. Hal itu tentu saja melanggar asas cabotage dalam UU Pelayaran.

“Untuk itu, kami mengatur kembali hal ini. Sekarang sudah bisa ekspor lagi. Belum lama ini saya sudah melakukannya bersama stakeholder dan eksportir di Belitung dan Lampung. Sebentar lagi di Bali dan beberapa tempat lainnya”, pungkas Slamet.

Comments are closed.