KSOP Banjarmasin: Rawan Pembajakan, Untuk Sementara Kapal Dilarang Berlayar Ke Perairan Philipina

246
5624

(maritimedia.com) – BANJARMASIN – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengeluarkan surat edaran tentang larangan sementara waktu bagi kapal yang berlayar dari Banjarmasin menuju perairan Filiphina.

Hal ini didasarkan pada dua insiden pembajakan terhadap kapal Indonesia disertai penyanderaan ABK Indonesia yang terjadi di perairan Filipina tersebut.

Kepala KSOP Banjarmasin, M Takwin Masuku, mengatakan surat larangan tersebut, juga berdasarkan perintah elektronik dari Direktur KPLP dan saran dari Pangkalan Utama TNI AL XIII/Tarakan, di Kalimantan Utara.

“Sehubungan dengan hal itu, untuk sementara kapal-kapal yang akan berlayar menuju Filipina, terutama untuk tujuan perairan barat Tawi-Tawi dan perairan Laut Sulu, dilarang hingga kondisi aman,” kata Takwin, di Banjarmasin, Selasa (19/4).

Surat edaran larangan berlayar tersebut, untuk menjaga agar tidak ada lagi korban pembajakan yang diduga dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf sebagaimana terjadi sebelumnya.

Sebagaimana berita yang beredar, pembajakan pertama terjadi terhadap kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang berlayar dari Banjarmasin ke Filipina pada 15 Maret 2016. Semua anak buah kapal disandera, 10 WNI pada pembajakan pertama disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

Kemudian disusul pembajakan kedua terhadap kapal tunda Henry dan kapal tongkang Cristi saat dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina, menuju Tarakan pada 15 April 2016. Dari pembajakan kedua itu, kapal membawa 10 orang ABK WNI. Dalam peristiwa tersebut 1 orang ABK tertembak, 5 orang selamat dan 4 orang diculik.

Pemerintah Indonesian akan mengambil langkah langkah untuk mengatasi sering terjadinya pembajakan di kawasan tersebut. Indonesia juga akan mengajak negara negara tetangga untuk meningkatkan keamanan.

Comments are closed.