PELINDO III AKAN KEMBANGKAN ALUR (APBS)

1
1057

Luar Negeri, terutama pada kapal-kapal petikemas berbadan lebar kemampuan angkut sekitar diatas 2.000 Teus, bahwa memasuki Pelabuhan Surabaya menjadi kurang aman, sebab “Dangkal” dan “Banyak Hambatan” seperti adanya lintasan Pipa Kodeco Energy Co. Ltd, dan Bangkai-Bangkai Kapal yang berada di sisi kiri dan kanan alur yang cukup berdekatan, sehingga jika terus seperti ini maka Pelabuhan Tg Perak akan berkurang dimasuki kapal-kapal besar, pada akhirnya akan menambah beban biaya angkutan barang, karena harus dipindahkan ke-kapal-kapal yang lebih kecil, arus kapal yang masuk ke alur tersebut saat ini mencapai rata-rata 27.000 kapal/ ship call setahun.
   Beberapa waktu yang lalu telah terbit Surat Edaran Adpel Tg Perak Nomor HH.534/01/20/AD.SBA.09 tanggal 31 Juli 2009, disebutkan ada tiga alasan yaitu Terkait dengan Undang Undang Pelayaran No. 17/ Tahun 2008, Peraturan Bandar 1925 dan Dampak pemasangan Pipa Kodeco Co Ltd sepanjang 7 Km dan telah memotong dua kali di alur pelayaran Tg Perak, sehingga Adpel Tg Perak merekomendasikan draft maksimal kapal yang dapat melintas Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) adalah -7 meter pada saat air surut terendah, juga melarang kapal-kapal yang akan menunggu dan tambat di DUKS Maspion, Smelthing, Petrokimia Gresik tidak dapat berlabuh/ membuang jangkar disekitar Buoy 8 s/d Buoy 13, karena pipa gas sepanjang 7 Km hanya digelar saja tanpa ditanam, sehingga area berlabuh kapal semua harus dipindahkan disekitar Karang Jamuan yang berjarak 12 mil dari Buoy 13.

Kegiatan Pelabuhan Tg Perak yang terus meningkat 

Pengusaha Pelayaran dan Asosiasi Pelayaran Nasional (INSA) Surabaya menyikapi surat itu dan minta pertanggung jawaban Adpel Tg Perak, Surat Edaran HH/534 membawa dampak luar biasa bagi pelabuhan dan dunia pelayaran dan pengaruhnya pada pelabuhan akan hilangnya kepercayaan bagi shipping line luar negeri terhadap Tanjung Perak, karena biaya ekonomi akan melambung sebab jumlah kapal dan muatan semakin terbatas, pasalnya kapal curah 30 Ton tidak bisa masuk. Yang paling terasa adalah kapal petikemas internasional dengan kapasitas diatas 2000 Teus, dengan pemabatasan draft/ kedalaman 7 meter sangat tidak mungkin untuk memasuki Tanjung Perak.

Alur (APBS) tersempit sekitar Pelabuhan Gresik.

Menurut Iwan Sabatini, Public Relation Pelindo III, bahwa kondisi APBS ini sudah tidak memungkinkan terus menerus berdiam diri, sudah saatnya untuk bisa dikelola dan dikembangkan agar alur tersebut tetap exis dan bisa dilewati kapal-kapal besar. Saat ini sedang disiapkan rencana Kerjasama Pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Pelindo III tentang Tol Air Pelabuhan Tg Perak Surabaya, tujuan pengembangan adalah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing transportasi laut berkaitan dengan kegiatan expor impor melalui Pelabuhan Tg Perak, Gresik dan Pelabuhan-Pelabuhan Industri lainya disekitar Selat Madura, serta untuk mewujudkan keselamatan dan kelancaran perjalanan kapal keluar dan atau masuk kepelabuhan, untuk itu Pelindo III akan melaksanakan study ulang (Review Study) terhadap hasil study MH-Detec dan Study JICA 2007 dengan mempertimbangkan kondisi phisik APBS, lingkungan dan ekonomi yang sudah mengalami banyak perubahan, kemudian segera akan dirumuskan tarif penggunaan APBS atau “channel Fee” yang dapat menjamin kelayakan finansial pengelolaan APBS dan selanjutnya akan disosialisasi antara pihak-pihak terkait, Dalam waktu tak lama akan dibentuk lembaga pengelola APBS dengan mempertimbangkan beberapa masukan yang ada baik aspek Tehnis, Administrasi dan Ekonomi serta Legalitas berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan APBS. Upaya ini sekaligus antisipasi Free Trade Asian, atau pedagangan bebas Asia sehingga akan membantu kelancaran prospek Expor barang-barang produksi dalam negeri ke luar negeri.

 (Public RelationPelindo III)

Comments are closed.