IMPORTIR DIMINTA SEGERA KELUARKAN BARANG

0
194

JAKARTA: Importir diminta segera mengeluarkan peti kemasnya yang sudah mengantongi guna mengurangi penumpukan peti kemas impor di surat perintah pengeluaran barang (SPPB) dari Bea dan Cukai, PelabuhanTanjung Priok.
Rachmat Subagio, Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, mengungkapkan tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) di lapangan penumpukan terminal peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) dan TPK Koja kemarin masih cukup tinggi, meskipun cenderung turun dibandingkan dengan kondisi sehari sebelumnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Bisnis, kemarin YOR di JICT untuk peti kemas impor mencapai 89%, peti kemas ekspor (isi) 22%, peti kemas ekspor (kosong) 83%, dan peti kemas berpendingin (refeer) 57%. Adapun, YOR di TPK Koja tercatat 84% untuk peti kemas impor, peti kemas ekspor 10%, dan refeer 20%.

Sehari sebelumnya, YOR di JICT dilaporkan mencapai 87% untuk peti kemas impor, peti kemas ekspor 17%, reefer 66%, dan peti kemas kosong 207%. Sementara itu, YOT di TPK Koja untuk peti kemas impor 102%, peti kemas ekspor 11%, dan reefer 33,87%.

Rachmat menyatakan pihaknya akan mengizinkan pemindahan lokasi penumpukan peti kemas atau overbrengen terhadap peti kemas impor dari kawasan lini 1 di pelabuhan ke lini 2 yang berada di luar pelabuhan jika YOR di tempat penimbunan sementara (TPS) yang menjadi penopang terminal peti kemas sudah melebihi kapasitas.

“Untuk overbrengen, hingga saat ini kapasitas TPS di kawasan lini 1 masih cukup untuk menampung peti kemas dengan YOR rata-rata 50%-80%. Namun, jika sudah penuh akan dialokasikan ke lini 2,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dia mengatakan sejak 24 September, instansinya sudah kembali melayani proses pengajuan dokumen importasi dan menerbitkan dokumen pengeluaran barang yang diajukan oleh importir di Pelabuhan Priok.

Menurut dia, Bea dan Cukai hanya memproses dokumen yang diajukan pemilik barang, tetapi jika ada importir yang masih menumpuk barangnya di dalam pelabuhan, hal itu bukan domain instansi tersebut.

“Yang jelas, kalau sampai dengan 30 hari tidak dikeluarkan dari dalam pelabuhan, peti kemas impor itu akan kami tarik ke lokasi tempat penimbunan pabean [TPP] dan dianggap sebagai barang tidak dikuasai,” tuturnya.

Turun signifikan

General Manager TPK Koja Sebulon Butarbutar mengatakan penurunan YOR di terminal tersebut cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi pada 28 September yang sempat mencapai 102% untuk peti kemas impor.

“Delivery peti kemas keluar pelabuhan sudah mulai dilakukan. Dalam 2 hari ke depan diharapkan semuanya kembali normal. Kami juga terus mengajukan permohonan overbrengen kepada Bea dan Cukai terhadap peti kemas impor yang sudah melebihi 10 hari di terminal,” ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Eksportir Importir Indonesia (IEI) Amelia Achyar mengatakan kalangan importir sudah mulai mengajukan order angkutan kepada perusahaan truk peti kemas untuk mengeluarkan peti kemas dari Pelabuhan Priok.

“Pekan lalu kami masih kesulitan untuk order angkutan sehingga banyak pemilik barang yang memilih menumpuk sementara barangnya di pelabuhan karena dinilai lebih aman. Selain itu, jam pelayanan dokumen di Bea dan Cukai juga masih terbatas akibat libur panjang Lebaran,” tutur Amelia.

Comments are closed.